Makam Sultan Iskandar Muda

Sultan Iskandar Muda merupakan salah satu pemimpin termasyhur yang pernah dimiliki Nusantara. Di bawah kepemimpinannya, Kesultanan Aceh Darussalam mencapai puncak kejayaan, menjadi kekuatan maritim, pusat perdagangan, dan pusat peradaban Islam yang disegani hingga ke Eropa dan Timur Tengah. Nama beliau diabadikan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia, dan warisannya terus hidup dalam ingatan masyarakat Aceh hingga hari ini.

Di antara berbagai peninggalan sejarah yang berkaitan dengan Sultan Iskandar Muda, makam beliau di Banda Aceh menempati posisi yang istimewa, bukan hanya sebagai situs sejarah, tetapi juga sebagai simbol kedaulatan dan kejayaan Aceh yang pernah dicoba untuk dihapus oleh kekuatan kolonial. Perjalanan makam ini, mulai dari penghancuran hingga penemuan kembali, mengingatkan bahwa mengenang Sultan Iskandar Muda berarti mempelajari cerita perjuangan yang tidak kalah penting dari kisah hidup sang sultan itu sendiri.

Siapakah Sultan Iskandar Muda?

Menurut beberapa sumber, Sultan Iskandar Muda adalah Sultan Aceh yang ke-12 yang memerintah Aceh dari tahun 1607 hingga wafatnya pada 1636. Beliau lahir pada tahun 1593 dan menyandang gelar sultan pada tahun 1607 dalam usia yang masih sangat muda. Penobatannya tercatat dalam Bustanussalatin karya Syekh Nuruddin Ar-Raniry yang menyebutnya sebagai raja berdaulat yang perkasa, bijaksana, dan terkenal hingga ke negeri-negeri besar. Selama hampir tiga dekade berkuasa (1607–1636), beliau mengubah Aceh menjadi salah satu kesultanan paling berpengaruh di Asia Tenggara.

Sultan Iskandar Muda tentunya memiliki banyak jasa bagi Kesultanan Aceh Darussalam. Dalam bidang politik, beliau berhasil memperluas wilayah Aceh hingga mencakup sebagian besar Semenanjung Malaya dan pantai barat Sumatra. Pada tahun 1613, armada Aceh berhasil menaklukkan Johor. Pada tahun 1629, Aceh juga melancarkan serangan besar ke Malaka yang saat itu berada di bawah kekuasaan Portugis sebagai bagian dari perlawanan terhadap dominasi kolonial Eropa di kawasan Selat Malaka.

Dalam bidang tata pemerintahan, beliau menetapkan dasar sistem administrasi kerajaan dalam Adat Meukuta Alam (Qanun Meukuta Alam), yang mengatur sebagian besar wilayah ke dalam sistem mukim dan ulèëbalang. Struktur tersebut bahkan bertahan jauh melampaui masa pemerintahannya. Selain itu, dalam bidang kebudayaan, masa pemerintahan beliau dianggap sebagai masa keemasan intelektual Aceh. Istana menjadi pusat berkembangnya ilmu agama Islam, sastra Melayu, serta diplomasi internasional dengan Turki Utsmani, Mughal India, Tiongkok, dan berbagai kerajaan di Nusantara.

Setelah menjalankan berbagai jasa besar bagi kesultanan, Sultan Iskandar Muda wafat pada tahun 1636 pada usia sekitar 43 tahun. Sumber-sumber sejarah yang ada, termasuk Hikayat Aceh dan catatan para penjelajah asing pada masa itu, tidak menyebutkan secara jelas penyebab wafatnya beliau. Namun yang pasti, beliau wafat tanpa meninggalkan pewaris laki-laki secara langsung, sehingga takhta kemudian dilanjutkan oleh menantunya, Iskandar Tsani.

Kondisi Makam Sultan Iskandar Muda

Sultan Iskandar Muda dimakamkan di kawasan Darul Dunya, kompleks istana Kesultanan Aceh Darussalam, di tepi Sungai Krueng Daroy, Banda Aceh. Akan tetapi, ketika Belanda menyerang dan berhasil menguasai Aceh, makam beliau dihancurkan. Hilangnya makam Sultan bersama sejumlah makam anggota keluarga kerajaan lainnya menjadi salah satu kehilangan sejarah terbesar bagi masyarakat Aceh. Bukan hanya makam Sultan yang hilang, makam permaisuri serta anggota keluarga kerajaan lainnya pun turut lenyap tanpa jejak.

Pada tahun 1952, makam Sultan Iskandar Muda akhirnya ditemukan kembali oleh Pocut Meurah, permaisuri dari Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah, Raja Aceh yang terakhir. Beliau mengingat bahwa posisi makam tersebut berada sekitar 44 langkah dari tepi Sungai Krueng Daroy. Dengan petunjuk itulah situs yang telah lama hilang akhirnya berhasil ditemukan kembali.

Saat ini, makam Sultan Iskandar Muda terletak di Jalan Sultan Alaiddin Mahmud Syah, Gampong Peuniti, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh, tepat di sebelah Meuligoe Gubernur Aceh dan dipisahkan oleh aliran Krueng Daroy. Situs tersebut kini telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah Indonesia dan berstatus sebagai makam Pahlawan Nasional.

Makam Sultan Iskandar Muda berdiri di atas pondasi khusus, beratap, dan ditandai dengan dua batu nisan hitam beraksen emas. Bangunan makam berbentuk persegi panjang dengan kaligrafi dzikir di setiap sudutnya. Di luar kompleks terdapat dua meriam kuno peninggalan masa kesultanan. Di kompleks tersebut juga terdapat makam lain yang terbagi dalam beberapa bagian, termasuk makam keluarga Kerajaan Aceh Darussalam abad ke-18 seperti Tuanku Zainal Abidin, Sultan Alaiddin Mahmud Syah, Raja Perempuan Darussalam, dan Putri Raja anak Raja Bangka Hulu.

Dibalik itu, terdapat pandangan dari beberapa pihak yang menyebutkan bahwa bangunan makam yang dapat kita lihat saat ini adalah replika, bukan struktur asli yang dihancurkan Belanda. Beberapa sumber menyebut bahwa makam asli Sultan dahulu dihiasi kaligrafi Al-Quran emas. Meski demikian, lokasi yang menjadi tempat makam berdiri kini diyakini tetap berada di kawasan yang sama dengan tempat Sultan dimakamkan pada abad ke-17.

Pelestarian Situs Makam

Sebagai situs cagar budaya nasional, Makam Sultan Iskandar Muda mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah dan menjadi destinasi wisata sejarah serta religi di Banda Aceh. Setiap tanggal 27 Desember, para peziarah berdatangan untuk memperingati hari wafat sang sultan. Situs ini juga kerap dikunjungi wisatawan dari Malaysia yang memiliki keterikatan historis tersendiri, karena permaisuri Sultan Iskandar Muda, Putroe Phang, berasal dari Pahang.

Di luar kompleks makam utama, MAPESA berperan aktif dalam upaya penelitian dan restorasi situs-situs pemakaman bersejarah di kawasan Banda Aceh. Lembaga ini mencatat bahwa sejumlah nisan di kompleks makam era Kesultanan Aceh mengalami pergeseran dari posisi aslinya, kemungkinan akibat gempa bumi dan tsunami 26 Desember 2004.

Makam Sultan Iskandar Muda bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir seorang raja. Ia merupakan titik pertemuan antara sejarah, identitas, dan kesadaran sejarah masyarakat Aceh—sebuah situs yang pernah dicoba untuk dilupakan, namun berhasil ditemukan kembali dan dipertahankan. Merawatnya dengan sungguh-sungguh adalah bagian dari tanggung jawab terhadap warisan peradaban yang tidak ternilai harganya.

Penutup

Warisan sejarah tidak akan bertahan hanya dengan penetapan status cagar budaya. Ia membutuhkan perhatian aktif, mulai dari pemerintah, peneliti, hingga masyarakat umum. Situs-situs yang berkaitan dengan Sultan Iskandar Muda, termasuk makam permaisuri di Pidie yang kondisinya belum mendapat perhatian memadai, mengingatkan bahwa pelestarian adalah tanggung jawab yang tidak boleh berhenti di atas kertas.

Generasi muda, khususnya masyarakat Aceh, memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan warisan ini. Mengenal Sultan Iskandar Muda bukan hanya soal menghafal nama dan tahun, tetapi soal memahami bahwa Aceh pernah memiliki peradaban yang luar biasa, dan pemahaman itu adalah fondasi untuk membangun kebanggaan serta identitas yang kokoh di masa depan.

#DanaIndonesiana
#DanaAbadiKebudayaan
#KementerianKebudayaan
#LPDP
#SidiyaKreyatCenter

Get 30% off your first purchase

X
Scroll to Top