Jauh sebelum nama Nusantara dikenal dunia, terdapat sebuah kerajaan kecil yang menjadi pintu masuknya Islam ke Nusantara. Kerajaan tersebut adalah Kerajaan Samudera Pasai yang berada di Aceh. Samudera Pasai adalah kerajaan Islam pertama yang pernah berdiri di Nusantara, di mana jejak-jejak peninggalannya masih dapat dirasakan hingga saat ini.
Di antara banyaknya peninggalan yang ada, terdapat salah satu situs penting yang perlu diketahui. Situs tersebut adalah makam Sultan Malikussaleh di Gampong Beuringen, Kabupaten Aceh Utara. Makam ini bukanlah sekadar tempat peristirahatan terakhir seorang raja, melainkan merupakan situs sejarah yang menjadi saksi dimulainya perjalanan panjang Islam di Nusantara.
Siapakah Sultan Malikussaleh?
Sultan Malikussaleh, atau juga dikenal sebagai Meurah Silo, merupakan seorang pemimpin yang berasal dari Nagur, Tanah Gayo, pada abad ke-13 Masehi. Perjalanan hidup beliau mulai berubah setelah terjadi sebuah peristiwa yang dicatat dalam Hikayat Raja-Raja Pasai. Dikisahkan bahwa pada suatu malam, Meurah Silo bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad SAW dan diminta untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Ketika terbangun, beliau mendapati dirinya mampu membaca Al-Qur’an tiga puluh juz, padahal sebelumnya belum pernah mempelajarinya.
Empat puluh hari kemudian, sebuah kapal dari Mekkah berlabuh dan membawa seorang ulama bernama Syekh Ismail yang kemudian mengislamkan Meurah Silo beserta seluruh rakyatnya. Sejak saat itu, beliau diberi gelar Sultan Malik al-Saleh, yang berarti “Raja yang saleh”. Sekitar tahun 1267 Masehi, beliau resmi mendirikan Kerajaan Samudera Pasai, yang menjadikannya raja pertama di Asia Tenggara yang menggunakan gelar sultan.
Selama masa pemerintahannya yang berlangsung dari tahun 1267 hingga 1297 Masehi, Sultan Malikussaleh membangun Samudera Pasai menjadi kerajaan yang disegani di kawasan Asia. Letaknya yang strategis di tepi Selat Malaka menjadikan kerajaan ini sebagai pusat perdagangan internasional yang ramai, dengan pedagang dari Arab, Persia, India, dan China yang datang silih berganti. Hasil perdagangan seperti sutra dan kapur barus tidak hanya mendatangkan kekayaan bagi kerajaan, tetapi juga membuat nama Samudera Pasai semakin dikenal di berbagai belahan dunia.
Di bidang keagamaan, Sultan Malikussaleh pula yang menetapkan ajaran Islam berdasarkan Mazhab Syafi’i sebagai landasan kehidupan kerajaan serta menerapkan mata uang dirham emas sebagai alat transaksi resmi. Sebagaimana yang dicatat oleh Ibnu Batutah dalam karyanya Tuhfat al-Nazhar, Kerajaan Samudera Pasai berkembang menjadi pusat pembelajaran Islam yang paling berpengaruh di Asia Tenggara pada masanya. Sultan Malikussaleh juga menjalin hubungan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan besar dunia, termasuk Kerajaan Mamluk di Mesir dan Kerajaan Yuan di China, serta pengaruhnya bahkan sampai ke tanah Jawa.
Menurut beberapa sumber, Sultan Malikussaleh wafat pada tahun 696 Hijriah, atau bertepatan dengan tahun 1297 Masehi. Tidak ada catatan sejarah khusus yang menyebutkan penyebab wafatnya. Namun, melihat kondisi bahwa beliau telah memerintah selama kurang lebih tiga dekade, banyak yang berpendapat bahwa kemungkinan beliau wafat karena usia yang telah lanjut. Setelah beliau meninggal dunia, takhta Kesultanan Samudera Pasai dilanjutkan oleh putranya.
Shalih, yang meninggal dunia pada bulan Ramadan tahun 696 Hijriah. Semoga Allah melimpahkan rahmat ke atas pusaranya dan menjadikan surga sebagai tempat kembalinya.”
Berdasarkan kajian arkeologi dan paleografi, batu nisan yang ada saat ini kemungkinan merupakan pengganti dari nisan aslinya yang diperkirakan dibuat ulang pada masa awal Kesultanan Aceh Darussalam pada abad ke-16 Masehi. Meskipun demikian, fakta ini justru mencerminkan betapa besar penghormatan generasi-generasi sesudahnya terhadap sang pendiri, hingga merasa perlu untuk memperbarui dan menjaga nisannya.
Satu hal yang juga menarik perhatian para ahli adalah kemiripan bentuk batu nisan Sultan Malikussaleh dengan batu nisan yang ditemukan di Gujarat, India. Kemiripan ini dianggap sebagai petunjuk penting mengenai besarnya hubungan perdagangan dan pertukaran budaya antara Samudera Pasai dengan kawasan Asia Selatan pada abad ke-13.
Kompleks Makam Sultan Malikussaleh
Makam Sultan Malikussaleh terletak di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, sekitar 17–20 kilometer ke arah timur Kota Lhokseumawe. Lokasi ini diyakini sebagai kawasan yang dahulunya menjadi pusat Kerajaan Samudera Pasai. Di dalam kompleks pemakaman seluas 12 × 17 meter ini juga terdapat masjid tua dan reruntuhan bekas istana kerajaan yang masih dapat disaksikan hingga kini.
Batu nisan Sultan Malikussaleh terbuat dari batuan sandstone, berbentuk segi empat pipih bersayap dengan bagian puncak berupa mahkota bersusun dua. Pada bagian badan dan puncak nisan terdapat inskripsi yang ditulis dalam bahasa dan kaligrafi Arab dengan terjemahan yang berbunyi:
“Inilah kubur orang yang dirahmati lagi diampuni, yang bertakwa lagi pemberi nasihat, yang berasal dari keturunan terhormat dan terkenal lagi pemurah, yang ahli ibadah dan pembebas, yang digelari dengan Sultan Al-Malik Ash-
Makam-Makam Lain dalam Kompleks
Di dalam kompleks yang sama terdapat sejumlah makam lain yang tidak kalah bersejarah. Salah satunya adalah makam Sultan Muhammad Malikul Dhahir, putra sulung Sultan Malikussaleh yang meneruskan takhta dan menyatukan dua wilayah menjadi Kerajaan Samudera Pasai. Sultan Muhammad Malikul Dhahir semasa hidupnya bergelar Syamsud Dunya wa ad-Din karena pada masanya Kerajaan Samudera Pasai mencapai puncak kejayaan, dan koin emas menjadi mata uang resmi yang dikenal dengan sebutan deureuham. Selain itu, terdapat pula makam Ratu Nahrasiyah, yang memerintah Kerajaan Samudera Pasai dari tahun 1405 hingga 1428 Masehi dan dikenal sebagai salah satu perempuan pertama yang pernah memimpin sebuah kerajaan di kawasan Nusantara.
Makam Sultan Malikussaleh tidak pernah sepi pengunjung. Menurut penjaga makam, setiap hari ada peziarah yang datang. Para peziarah tersebut tidak hanya berasal dari Indonesia, tetapi juga dari mancanegara, termasuk negara-negara Asia Tenggara, Turki, Jepang, Qatar, India, dan berbagai negara lainnya. Sebagian besar datang untuk berziarah sekaligus menggali lebih dalam sejarah kejayaan Kerajaan Samudera Pasai.
Upaya dan Tantangan Pelestarian
Upaya pelestarian situs sejarah Samudera Pasai, termasuk makam Sultan Malikussaleh, masih menghadapi beberapa tantangan yang cukup serius. Pengelolaan situs cagar budaya makam Sultan Malikussaleh selama ini hanya dilakukan oleh sebagian kecil tokoh masyarakat setempat. Beberapa artefak penting seperti batu nisan kerap ditemukan dalam kondisi yang memprihatinkan, bahkan ada yang sempat digunakan sebagai penyangga kandang oleh warga sebelum akhirnya diselamatkan dan dipamerkan di museum.
Situs-situs penting di kawasan Samudera Pasai dinilai belum mendapatkan perhatian yang maksimal dari pemerintah dan lembaga kebudayaan. Monumen Islam Samudera Pasai yang telah dibangun di kawasan Gampong Beuringen pun baru sebatas simbolis dan belum berfungsi sebagai pusat edukasi atau museum interaktif yang komprehensif. Meskipun demikian, Museum Samudera Pasai yang berada di bawah naungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara terus berupaya melestarikan artefak dan situs bersejarah dengan dukungan anggaran dari pemerintah daerah.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pelestarian sejarah tidak bisa hanya bertumpu pada satu pihak. Dibutuhkan keterlibatan yang lebih luas mulai dari pemerintah, lembaga kebudayaan, akademisi, hingga masyarakat umum, agar situs sepenting ini mendapat perhatian yang selayaknya. Generasi muda juga memiliki peran penting dalam hal ini. Memahami dan menghargai sejarah bukan berarti sekadar mengunjungi situs atau menghafalkan nama-nama raja. Lebih dari itu, menyadari bahwa identitas dan peradaban yang dinikmati hari ini dibangun di atas fondasi yang diletakkan oleh orang-orang seperti Sultan Malikussaleh dan fondasi tersebut layak untuk dijaga, diteliti, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Penutup
Makam Sultan Malikussaleh merupakan salah satu situs bersejarah paling penting yang dimiliki Indonesia. Keberadaannya menjadi bukti nyata bahwa Islam telah hadir dan berakar di Nusantara sejak abad ke-13, jauh sebelum agama ini menyebar ke berbagai penjuru kepulauan. Bagi siapa pun yang mengunjunginya, tempat ini tidak hanya menawarkan nilai sejarah dan spiritual, tetapi juga menjadi pengingat akan peran besar Aceh dalam perjalanan panjang peradaban Islam di Indonesia.
Sumber menyebutkan bahwa makam Sultan Malikussaleh tidak pernah sepi pengunjung. Menurut penjaga makam, setiap hari ada peziarah yang datang. Para peziarah tersebut tidak hanya berasal dari Indonesia, tetapi juga dari mancanegara, termasuk negara-negara Asia Tenggara, Turki, Jepang, Qatar, India, dan berbagai negara lainnya. Sebagian besar datang untuk berziarah sekaligus menggali lebih dalam sejarah kejayaan Kerajaan Samudera Pasai.
#DanaIndonesiana
#DanaAbadiKebudayaan
#KementerianKebudayaan
#LPDP
#SidiyaKreyatCenter