Kerajaan Samudera Pasai adalah kerajaan Islam pertama di Nusantara yang berdiri sekitar abad ke-13 di pesisir utara Pulau Sumatera, tepatnya di wilayah yang kini termasuk ke dalam Kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe. Sejarah Pasai kini hanya dapat ditelusuri melalui sejumlah situs makam para pendiri kerajaan dan keturunannya, karena peninggalan lain seperti istana telah lenyap sepenuhnya.
Para sejarawan biasanya menelusuri jejak kerajaan ini menggunakan sumber dari Hikayat Raja-Raja Pasai serta peninggalan sejarah seperti adat istiadat dan budaya setempat yang masih dijalankan serta dipertahankan oleh masyarakat pesisir pantai utara Sumatera. Hikayat ini menjadi salah satu karya sastra tertua di Nusantara untuk memahami peristiwa-peristiwa besar Pasai, mulai dari berdirinya kerajaan oleh Meurah Silu hingga keruntuhannya di tangan Portugis pada 1521 M, sebelum wilayah Pasai kemudian menjadi bagian dari Kesultanan Aceh pada 1524 M.
Silsilah Raja-raja Pasai
Berdasarkan Hikayat Raja-raja Pasai, kerajaan ini dipimpin oleh serangkaian sultan secara berurutan. Kerajaan Samudera Pasai didirikan oleh Meurah Silu, yang kemudian dikenal sebagai Sultan Malikussaleh dan menjadi pemimpin pertama kerajaan tersebut. Setelah wafatnya Sultan Malikussaleh, pemerintahan dilanjutkan oleh putranya, Sultan Muhammad Malik Az-Zahir. Sekitar tahun 1326, Sultan Muhammad Malik Az-Zahir meninggal dunia dan kemudian digantikan oleh putranya, Mahmud Malik Az-Zahir, yang memerintah hingga tahun 1345.
Selanjutnya, pemerintahan Pasai dilanjutkan oleh Sultan Ahmad Malik Az-Zahir, putra dari Sultan Mahmud Malik Az-Zahir. Pada masa pemerintahannya, kawasan Samudera dan Pasai yang sebelumnya terpisah akhirnya menyatu menjadi satu kesatuan dengan nama Samudera Pasai, meskipun tetap berpusat di Pasai. Setelah Sultan Ahmad, takhta dipegang oleh Sultan Zainal Abidin Malik Az-Zahir yang dikenal dengan gelar Ra-Ubabdar, yang bermakna “penakluk gelombang.”
Kesultanan Pasai kembali bangkit di bawah kepemimpinan Sultan Zainal Abidin Malik Az-Zahir pada tahun 1383 dan ia memerintah hingga tahun 1405. Setelah Sultan Zainal Abidin Az-Zahir terbunuh dalam pertempuran melawan Raja Nakur, pemerintahan dipegang oleh anak beliau yaitu Sultanah Nahrasiyah.
Setelah Nahrasiyah, kerajaan dipimpin oleh sejumlah sultan lain yang makamnya terdokumentasikan di Kompleks Batee Balee hingga masa keruntuhan kerajaan. Berdasarkan silsilah di atas, diketahui bahwa tidak semua pemimpin Pasai meninggalkan makam yang dapat teridentifikasi hingga hari ini. Berikut adalah beberapa profil makam raja-raja Pasai yang datanya dapat ditelusuri dari sumber arkeologis dan historis.
Makam Sultan Malikussaleh
Seperti yang diketahui, Sultan Malikussaleh merupakan pendiri sekaligus pemimpin pertama Kerajaan Samudera Pasai. Beliau wafat pada tahun 696 Hijriah atau 1297 Masehi. Makamnya terletak di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara.
Sepasang nisan pada makam tersebut terbuat dari batuan sandstone, berbentuk segi empat pipih bersayap dengan bagian puncak berupa mahkota bersusun dua. Berdasarkan kajian arkeologi dan paleografi, batu nisan yang ada saat ini diduga merupakan pengganti dari nisan aslinya, yang kemungkinan dibuat kembali pada masa awal Kesultanan Aceh Darussalam sekitar abad ke-16 M.
Pada badan dan puncak nisan terpahat ayat-ayat Al-Qur’an, di antaranya Surah Al-Hasyr ayat 22–24, serta sebuah ungkapan yang bermakna bahwa dunia bersifat fana dan tidak kekal. Pada sisi nisan sebelah kaki terdapat inskripsi yang menyebutkan bahwa inilah kubur orang yang dirahmati dan diampuni, yang saleh dan pemberi nasihat, mulia dan ahli ibadah, yang digelar Sultan Malik al-Saleh, yang wafat pada bulan Ramadhan tahun 696 H.
Makam Sultan Muhammad Malik al-Zahir (Malikul Dhahir)
Sultan Muhammad Malik az-Zahir merupakan putra pertama Sultan Malikussaleh dari pernikahannya dengan putri Raja Perlak. Pada masa pemerintahannya, penggunaan koin emas sebagai mata uang semakin berkembang di Pasai, seiring dengan tumbuhnya wilayah ini sebagai salah satu pusat perdagangan sekaligus pengembangan dakwah Islam di kawasan pesisir utara Sumatra. Setelah wafat, beliau dimakamkan di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, bersebelahan dengan makam ayahnya.
Nisan makamnya terbuat dari batu granit, berbeda dengan batuan sandstone yang digunakan pada makam Malikussaleh. Pada permukaan nisan tersebut terpahat ayat-ayat Al-Qur’an, di antaranya Surah At-Taubah ayat 21–22. Inskripsi pada makam ini menyebutkan: “Kubur ini kepunyaan tuan yang mulia, yang syahid bernama Sultan Malik Adh-Dhahir, cahaya dunia dan sinar agama, Muhammad bin Malik al-Saleh, wafat malam Ahad 12 Zulhijjah tahun 726 H (19 November 1326 M).”
Gelar lengkap yang tertera pada nisan tersebut adalah Syams al-Dunya wa al-Din, yang berarti “Matahari Dunia dan Agama”, sebuah gelar yang mencerminkan perannya dalam memperkuat fondasi Islam di Pasai.
Makam Sultanah Nahrasiyah
Sultanah Nahrasiyah merupakan salah satu penguasa perempuan yang pernah memegang kekuasaan di Kerajaan Samudera Pasai. Para sejarawan memperkirakan bahwa Nahrasiyah memerintah Pasai sekitar tahun 1405 hingga 1428 Masehi. Ia menggantikan ayahnya, Sultan Zainal Abidin, yang wafat pada awal abad ke-15. Garis silsilahnya tercatat langsung pada nisannya: ia adalah putri Sultan Zainal Abidin, putra Sultan Ahmad, putra Sultan Muhammad, putra Sultan Malikussaleh.
Makamnya terletak di Gampong Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, sekitar 18 kilometer di sebelah timur Kota Lhokseumawe. Kompleks makam ini terbuat dari batu pualam yang didatangkan dari Gujarat dan dipenuhi pahatan kaligrafi Arab pada bagian dindingnya. Keindahan ornamen dan kualitas pahatan kaligrafinya membuat makam ini sering disebut sebagai salah satu makam Islam terindah di Asia Tenggara.
Pada bagian epitaf terdapat tulisan kaligrafi Arab yang berbunyi: “Inilah kubur yang bercahaya, yang suci, ratu yang terhormat, almarhumah yang diampuni dosanya, Nahrasiyah, putri Sultan Zainal Abidin, putra Sultan Ahmad, putra Sultan Muhammad, putra Sultan Malikussaleh.”
Selain itu, dinding makam juga memuat berbagai kutipan ayat Al-Qur’an, di antaranya dari Surah Yasin, Al-Baqarah, dan Ali ‘Imran. Epitaf pada makam tersebut juga menyebutkan bahwa Ratu Nahrasiyah bergelar Ra-Baghsa Khadiyu, yang berarti “Penguasa yang Pemurah”. Gelar ini diduga memiliki unsur bahasa Persia yang menunjukkan pengaruh budaya Islam dari wilayah Asia Barat dalam tradisi kerajaan Pasai.
Kompleks Makam Batee Balee
Kompleks Batee Balee merupakan situs pemakaman raja-raja Pasai dari periode paling akhir yang berlokasi di Gampong Meucat, Kecamatan Samudera. Di lokasi inilah para sultan yang memerintah pada penghujung usia kerajaan tersebut dimakamkan, mulai dari penguasa pertengahan abad ke-15 hingga masa-masa terakhir sebelum Portugis menyerang Pasai pada tahun 1521 M.
Menurut sejumlah peneliti sejarah Aceh, kompleks ini mencerminkan tingkat peradaban Islam yang cukup tinggi pada masa itu. Para tokoh yang dimakamkan di sana diperkirakan merupakan generasi penerus dari dinasti Samudera Pasai pada periode akhir kerajaan. Salah satu temuan menarik dari penelitian di situs ini adalah bahwa beberapa nama sultan yang dimakamkan di Kompleks Batee Balee juga tercantum pada mata uang dirham yang pernah dikeluarkan oleh Kerajaan Samudera Pasai.
Di antara sultan yang dimakamkan di kompleks ini beserta tahun wafatnya antara lain Sultan Shalahuddin (wafat 1462 M), Sultan Abu Zaid Ahmad (1466 M), Sultan Mu‘izz al-Dunya wa al-Din Ahmad (1466 M), Sultan Muhammad Syah (1495 M), Sultan Abdullah bin Manshur (1506 M), Sultan Muhammad Syah III (1507 M), Sultan Abdullah bin Mahmud (1509 M), Khoja Sultan Ahmad (1514 M), dan Sultan Zainal Abidin (1517 M) yang sering disebut sebagai salah satu pemimpin terakhir Kerajaan Samudera Pasai.
Nisan-nisan di kompleks ini memuat berbagai ayat Al-Qur’an yang dipahat pada permukaannya. Namun hingga kini, data inskripsi individual untuk setiap sultan di kompleks ini belum terdokumentasikan secara lengkap dalam sumber-sumber yang tersedia secara publik. Kondisi fisik kompleks makam juga cukup beragam; sebagian nisan dan prasasti masih berada dalam kondisi yang baik, sementara sebagian lainnya sudah mengalami kerusakan dan kurang terawat.
Selain itu, pecahan keramik kuno dari Vietnam, Tiongkok, dan Thailand yang ditemukan di area ini menjadi saksi bisu luasnya jaringan perdagangan Pasai pada abad ke-14 hingga ke-16, meskipun sebagian temuan tersebut juga dilaporkan pernah diperjualbelikan kepada kolektor. Situasi ini menjadikan Batee Balee sebagai salah satu situs yang mendesak untuk mendapatkan perhatian serius dalam upaya pelestarian, karena setiap nisan yang hilang berarti satu halaman sejarah yang tidak dapat lagi dibaca.
Kondisi Terkini dan Upaya Pelestarian
Dari seluruh situs yang ada, makam Sultan Malikussaleh dan Sultanah Nahrasiyah merupakan dua situs yang tergolong masih terawat dengan baik. Selebihnya, banyak manuskrip dan inskripsi kuno yang terbengkalai dan kurang terawat, padahal peninggalan tersebut menyimpan catatan sejarah penting yang dapat menjelaskan lebih jauh tentang Kerajaan Samudera Pasai.
Beberapa upaya pelestarian juga telah dilakukan. Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh melaksanakan kajian penyelamatan struktur cagar budaya di kawasan Kuta Krueng pada tahun 2017 dengan melibatkan tim arkeolog, ahli geofisika dari Universitas Syiah Kuala, ahli sejarah, serta lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang pelestarian cagar budaya. Pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga mendirikan Monumen Islam Samudera Pasai di lahan seluas 7,7 hektare di Gampong Beuringen, sekitar 300 meter dari kompleks makam Sultan Malikussaleh, yang pembangunannya dimulai sejak tahun 2012.
Selain itu, terdapat pula Museum Islam Samudera Pasai di Desa Beuringen yang mulai difungsikan sejak Juni 2017. Museum ini dibangun secara bertahap antara tahun 2011 hingga 2016 menggunakan Dana Otonomi Khusus Kabupaten Aceh Utara dan kini memamerkan sekitar 250 benda bersejarah dari masa Kerajaan Samudera Pasai. Dari kalangan akademisi, sejumlah dosen Universitas Malikussaleh pada Agustus 2025 juga meluncurkan Komunitas Malikussaleh Muda yang menjadi wadah bagi generasi muda untuk mendukung digitalisasi koleksi Museum Islam Samudera Pasai, yang hingga kini masih sangat terbatas dalam format digital.
Tantangan Pelestarian di Era Modern dan Peran Generasi Muda
Salah satu tantangan terbesar dalam pelestarian warisan budaya Aceh adalah dampak modernisasi dan globalisasi. Perubahan sosial yang cepat, dikombinasikan dengan derasnya arus budaya populer melalui media massa dan teknologi, kerap menggeser perhatian masyarakat dari nilai-nilai lokal. Dalam konteks makam-makam Pasai, tantangan ini tidak hanya soal fisik seperti nisan yang lapuk atau kompleks yang tidak terawat, tetapi juga soal apakah generasi yang tumbuh hari ini masih merasa memiliki keterikatan tempat-tempat tersebut.
Penelitian menunjukkan bahwa pemahaman generasi muda terhadap warisan budaya Aceh sangat bervariasi. Mereka yang tinggal di pedesaan cenderung lebih dekat dengan nilai-nilai budaya lokal, sementara generasi perkotaan lebih terpapar budaya global. Bahkan penggunaan bahasa Aceh pun tercatat menurun signifikan di kalangan anak muda perkotaan, sebuah indikator yang mengkhawatirkan tentang seberapa jauh situs-situs bersejarah yang tidak dikemas secara menarik bisa semakin jauh dari radar mereka.
Meski begitu, banyak anak muda yang justru menunjukkan cara kreatif dalam melestarikan warisan budaya lewat konten di Instagram, TikTok, dan YouTube. Ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan pada ketiadaan minat, melainkan pada cara penyampaiannya. Sejarah yang dikemas kaku sulit bersaing dengan konten digital yang cepat dan visual. Ini mengisyaratkan bahwa masalahnya bukan pada ketiadaan minat, melainkan pada cara penyampaian.
Ada beberapa solusi sudah mulai berjalan. Misalnya Museum Aceh yang telah mendigitalisasi ribuan koleksi benda bersejarah agar bisa diakses secara digital dan terlindungi dari kerusakan fisik, sementara pengembangan teknologi Augmented Reality kini memungkinkan generasi muda mengenal benda-benda bersejarah Aceh melalui animasi 3D interaktif di perangkat Android.
Di tingkat yang lebih luas, para ahli merekomendasikan penguatan pendidikan budaya di sekolah, integrasi materi sejarah lokal ke dalam kurikulum, hingga produksi konten digital berbahasa Aceh dalam format yang relevan bagi anak muda. Yang dibutuhkan pada akhirnya adalah perpaduan antara komitmen pemerintah, kreativitas komunitas, dan keterlibatan aktif generasi muda, bukan sebagai penonton sejarah, melainkan sebagai penjaganya.
Penutup
Makam-makam raja Pasai adalah bukti fisik paling nyata dari keberadaan kerajaan Islam pertama di Nusantara. Namun sayangnya, tidak banyak peninggalan yang tersisa. Tanpa istana yang masih berdiri, tanpa prasasti besar, dan dengan hikayat yang terbatas, hanya nisan-nisan itulah yang masih berdiri dan “berbicara”. Dari batu-batu nisan yang telah bertahan lebih dari tujuh abad itu, kita dapat mengetahui siapa mereka, bagaimana mereka memerintah, apa yang mereka yakini, dan seberapa luas jaringan peradaban yang pernah mereka bangun. Jejak hubungan itu membentang dari Gujarat hingga Persia, dari para pedagang hingga ulama, dan semuanya masih terpahat di sana.
Kerajaan yang namanya disebut dalam catatan Ibnu Batutah, yang nisannya dikaji oleh sarjana-sarjana Belanda sejak abad ke-19, dan yang makam ratunya disebut sebagai salah satu yang terindah di Asia Tenggara, hingga kini masih berdiri di pinggir jalan di Aceh Utara—sebagian terawat, sebagian tidak. Menjaga kelestarian makam-makam ini bukan sekadar urusan pelestarian cagar budaya, melainkan soal apakah generasi berikutnya masih memiliki kesempatan untuk berdiri di depan nisan-nisan itu dan merasakan bahwa sejarah Islam di negeri ini bukan dimulai dari buku teks, melainkan dari batu yang telah ada jauh sebelum buku-buku itu ditulis.
#DanaIndonesiana
#DanaAbadiKebudayaan
#KementerianKebudayaan
#LPDP
#SidiyaKreyatCenter