Uroe Budaya
Dalam bahasa Aceh, uroe berarti hari. Masyarakat Aceh mengenal hari-hari yang bukan sekadar penanda waktu, melainkan pengatur kehidupan bersama — hari turun ke sawah, hari syukuran nelayan, hari menyembelih sebelum puasa, dan hari pasar bergilir yang mempertemukan pedagang pesisir dengan pedagang pegunungan.
Halaman ini mencatat dua rumpun: uroe budaya dan adat yang terikat pada musim, penanggalan Hijriah, atau siklus panen; dan uroe gantoe atau uroe peukan, hari pasar mingguan yang berputar dari kecamatan ke kecamatan sepanjang pekan.
Pasar tradisional kecamatan berputar menurut hari yang ditetapkan adat setempat. Perputaran itu membuat pedagang berkeliling dari satu kecamatan ke kecamatan lain, mempertemukan komoditas pesisir dengan komoditas pegunungan, sekaligus menjadi ruang silaturahmi warga pedalaman.
Lengkapi catatan ini
Daftar ini belum memuat seluruh uroe budaya dan hari pasar di Aceh. Jika Anda mengetahui uroe budaya Aceh di daerah masing-masing — hari pasar kecamatan, kenduri adat, atau perayaan yang belum tercatat di sini — silakan kirimkan kepada kami melalui Forum Budaya.
