Dari banyaknya peninggalan sejarah di Aceh, terdapat sebuah kompleks bersejarah di Kecamatan Meurah Dia, Pidie Jaya yang menjadi saksi bisu perjalanan panjang peradaban Islam di Nusantara. Di kompleks tersebut pula Teungku Japakeh, seorang ulama, diplomat, dan penasihat militer yang namanya tercatat dalam sejarah Kesultanan Aceh Darussalam pada abad ke-17, dimakamkan. Ribuan penziarah dari berbagai penjuru Aceh bahkan dari luar daerah terus berdatangan, tidak hanya untuk mengenang jasa beliau, tetapi juga sebagai wujud penghormatan terhadap salah satu tokoh terpenting di masa kejayaan Sultan Iskandar Muda.
Asal-usul Teungku Japakeh
Nama asli beliau adalah Jalaluddin Faqih, seorang ulama yang berasal dari Khoja Faqih, Turki. Kehadirannya di Aceh tidak terlepas dari konteks hubungan diplomatik yang erat antara Kesultanan Aceh Darussalam dengan Kekhalifahan Utsmaniyah pada abad ke-16 hingga ke-17. Dalam kerangka hubungan tersebut, raja Turki mengirimkan ahli militer dan ulama-ulama alim ke Aceh. Sebagian dari mereka kemudian menetap di Aceh dan menurunkan generasi yang membawa tradisi keilmuan Turki-Aceh sekaligus.
Nama panggilan “Japakeh” lahir dari kebiasaan masyarakat Aceh dalam menyingkat nama seseorang. “Ja” adalah kependekan dari Jalaluddin, sementara kata Arab “Faqih” diucapkan oleh lidah Aceh menjadi “Pakeh”. Maka jadilah Teungku Jalaluddin Faqih dikenal dengan sebutan Teungku Japakeh, yang secara harfiah bermakna “Teungku Jalaluddin dari Faqih”. Perlu dicatat, terdapat beberapa versi riwayat mengenai asal-usul beliau. Sebagian sumber menyebut Madinah, sebagian India, dan sebagian Turki. Di antara versi-versi tersebut, versi Khoja Faqih, Turki adalah yang tercatat dalam sumber lokal Meureudu.
Peran Diplomatik dan Militer di Bawah Sultan Iskandar Muda
Masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607–1636) merupakan periode keemasan Kesultanan Aceh Darussalam. Di era inilah Teungku Japakeh tampil sebagai salah satu tokoh kunci yang menopang kejayaan kerajaan, tidak hanya sebagai ulama, melainkan juga sebagai penasihat militer dan diplomat yang disegani.
Pada tahun 1620, Sultan Iskandar Muda melancarkan ekspedisi besar-besaran untuk menyerang kekuatan Portugis di Semenanjung Malaka. Dalam ekspedisi bersejarah ini, Teungku Japakeh diangkat secara resmi sebagai penasihat militer kerajaan, mendampingi Malem Dagang dari Meureudu yang bertindak sebagai Panglima Perang. Perpaduan antara kepemimpinan militer Malem Dagang dan kearifan strategis Teungku Japakeh menjadikan ekspedisi ini salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah perlawanan Aceh terhadap kolonialisme Portugis di Asia Tenggara.
Lebih dari sekadar penasihat perang, Teungku Japakeh juga dikenal sebagai pendiri pusat pendidikan militer Kerajaan Aceh di kawasan Raweu, dalam negeri Meureudu. Lembaga ini melatih tentara-tentara kerajaan di bawah bimbingan para mualim yang didatangkan langsung dari Turki atas perintah Khalifah Utsmaniyah, sebuah bukti nyata betapa eratnya jaringan kerjasama strategis antara Aceh dan dunia Islam internasional pada masa itu.
Karakter Teungku Japakeh juga dikenal tegas dan tidak tunduk pada kekuasaan semata. Sebuah kisah yang berkembang di masyarakat menuturkan bahwa beliau pernah menegur Sultan Iskandar Muda secara langsung karena sang raja datang tidak tepat waktu sesuai janji yang telah disepakati. Sikap tersebut justru membuat Sultan mengakui kewibawaan ulama ini dan meminta maaf kepadanya, yang menjadi sebuah gambaran bahwa Teungku Japakeh bukan sekadar bawahan, melainkan mitra intelektual yang dihormati bahkan oleh penguasa tertinggi kerajaan.
Warisan dan Peninggalan Teungku Japakeh
Sesaat setelah kembali dari ekspedisi Malaka, Teungku Japakeh mendirikan sebuah masjid yang kemudian dikenal dengan nama Masjid Madinah, sekitar tahun 1623 Masehi. Masjid ini terletak di Gampong Dayah Kruet, Kemukiman Kuta Baroh, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya. Sebuah bangunan ibadah yang kini telah berusia lebih dari empat abad dan ditetapkan sebagai salah satu Cagar Budaya di Aceh.
Di dalam masjid tua ini tersimpan sejumlah artefak bersejarah yang menjadi warisan langsung Teungku Japakeh. Pertama adalah sebuah mimbar kayu berukir kaligrafi yang oleh masyarakat setempat dipercaya dibawa beliau dari Madinah, Arab Saudi, ketika pulang menunaikan ibadah haji. Meskipun kayu mimbar tersebut kini telah lapuk dimakan usia, ukiran kaligrafinya masih terlihat dengan jelas.
Namun secara arkeologis, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pidie Jaya menyatakan bahwa mimbar ini kemungkinan besar dibuat di Aceh oleh pengrajin lokal, mengingat kayu yang digunakan adalah kayu jati yang merupakan tanaman iklim tropis dan tidak mungkin berasal dari Jazirah Arab, sementara motif ukirannya pun merupakan seni pahat khas Aceh.
Kedua adalah Guci Siam, sebuah guci batu yang juga dibawa dari Arab Saudi yang hingga kini masih berisi air dan diyakini memiliki khasiat oleh para penziarah. Ketiga adalah dua buah batu sumpah yang dulunya digunakan Teungku Japakeh untuk menyelesaikan perselisihan di antara warga, siapa pun yang bersengketa harus bersuci dan bersumpah di atas batu tersebut. Arsitektur masjid ini sendiri konon dirancang oleh seorang muslim asal Tiongkok bernama Husein Cina, menjadikannya sebuah perpaduan lintas budaya yang kaya.
Makam Teungku Japakeh
Teungku Japakeh berpulang ke rahmatullah diperkirakan pada sekitar tahun 1650-1651 Masehi. Tidak terdapat catatan sejarah yang secara pasti menyebutkan penyebab wafatnya. Namun beliau telah meninggalkan jejak yang demikian dalam bagi masyarakat Aceh, baik melalui ajaran keagamaannya, peran militernya, maupun lembaga-lembaga yang ia dirikan. Setelah wafat, beliau dimakamkan di tanah yang telah ia abdikan sepanjang hidupnya, yaitu di Gampong Dayah Kruet, Meureudu, tidak jauh dari masjid yang ia bangun sebagai pusat syiar Islam.
Posisi makam berada sekitar 100 meter dari Masjid Madinah yang beliau dirikan, di sisi kanan kompleks masjid. Makam beliau berdampingan langsung dengan makam Teungku H. Musa bin Teungku H. Asyek, menjadikan kawasan ini sebuah kompleks pemakaman tokoh-tokoh bersejarah yang menjadi tujuan ziarah penting di wilayah Pidie Jaya. Berdasarkan pengukuran yang tercatat, luas keseluruhan lahan kompleks makam adalah 11,7 meter persegi, dengan liang kubur Teungku Japakeh sendiri berukuran panjang 3,9 meter dan lebar 3 meter.
Secara resmi, makam beserta kompleks Masjid Madinah telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya dan dirawat sebagai situs warisan sejarah. Namun kondisi fisiknya sempat menjadi perhatian serius pasca gempa bumi dahsyat yang melanda Pidie Jaya pada 7 Desember 2016. Bencana tersebut menyebabkan pagar kompleks makam mengalami kemiringan dan kerusakan struktural.
Pada 2019, pihak Dinas Pendidikan Pidie Jaya menyatakan akan mengusulkan revitalisasi dan pemugaran kembali bangunan makam. Hingga saat ini, dokumentasi ilmiah yang mendetail mengenai kondisi fisik nisan dan struktur bangunan makam secara keseluruhan belum tersedia secara akademik, sebuah catatan tersendiri yang mencerminkan masih minimnya perhatian terhadap pelestarian situs ini secara akademis.
Meskipun menghadapi berbagai tantangan pelestarian, makam Teungku Japakeh tidak pernah sepi dari kunjungan. Penziarah berdatangan bukan hanya dari berbagai kabupaten dan kota di Aceh, tetapi juga dari luar provinsi. Secara tradisi, hari-hari yang dianggap paling tepat untuk berziarah adalah Senin dan Kamis. Setiba di kawasan ini, penziarah umumnya terlebih dahulu melaksanakan shalat sunah di Masjid Madinah, kemudian berjalan menuju makam untuk berdoa dan membaca tahlil.
Prosesi lazimnya diakhiri dengan meminum seteguk air dari guci batu peninggalan Teungku Japakeh serta mengusapkannya ke wajah, sebuah tradisi yang telah berlangsung turun-temurun dan menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya ziarah masyarakat setempat. Sebagian penziarah juga datang untuk melepaskan nazar (peulheh kaoy), sebuah bentuk pemenuhan janji kepada Allah yang biasa dilakukan di makam-makam ulama yang dihormati dalam tradisi Islam Aceh.
Tantangan Pelestarian dan Pemahaman Sejarah Generasi Muda di Era Modern
Kompleks Makam Teungku Japakeh dan Masjid Madinah adalah satu dari puluhan situs bersejarah di Pidie Jaya yang menghadapi tantangan pelestarian serius. Berdasarkan data Dinas Kebudayaan Pidie Jaya, terdapat sedikitnya 33 situs cagar budaya di kabupaten tersebut yang belum tersentuh pemugaran, dan sebagian besar merupakan makam ulama dan bangunan peninggalan Kerajaan Aceh.
Kerusakan akibat gempa 2016 yang belum sepenuhnya ditangani menjadi bukti nyata bahwa respons terhadap ancaman fisik masih lamban. Sementara itu, ketergantungan perawatan harian pada ketulusan tokoh-tokoh lokal tanpa sistem kelembagaan yang terstruktur turut memperparah kondisi pelestarian secara keseluruhan.
Namun ada kabar baiknya. Pemkab Pidie Jaya kini telah memiliki Qanun Kabupaten Pidie Jaya Nomor 1 Tahun 2023 tentang Cagar Budaya, dengan 20 situs yang telah ditetapkan. Di antaranya, Masjid Madinah Teungku Japakeh telah terdaftar sebagai situs cagar budaya di tingkat nasional, setelah ditetapkan oleh Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Aceh melalui kajian historis dan struktural, sebuah pengakuan resmi yang memperkuat landasan hukum perlindungan situs ini ke depannya.
Ke depannya, pelestarian situs seperti ini kiranya membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh, mulai dari digitalisasi dokumentasi fisik makam dan masjid, integrasi sejarah lokal ke dalam kurikulum pendidikan daerah, hingga model kemitraan antara pemerintah, komunitas lokal, dan sektor swasta yang dapat menjadikan arus kunjungan peziarah sebagai sumber pembiayaan perawatan situs secara berkelanjutan.
Upaya Pelestarian yang Telah Berjalan
Di tengah berbagai tantangan yang ada, sejumlah upaya pelestarian terhadap kompleks Makam Teungku Japakeh dan Masjid Madinah telah dan sedang berjalan, baik dari sisi fisik maupun akademis. Dari sisi fisik, atap Masjid Madinah telah menjalani pemugaran. Meski demikian, prinsip arsitektur aslinya tetap dipertahankan, mulai dari atap berbentuk limas bertingkat yang menjadi ciri khas masjid-masjid kuno Nusantara masih terjaga hingga kini. Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pidie Jaya, Marzuan, secara arkeologis menegaskan bahwa Masjid Madinah merepresentasikan bentuk masjid kuno di Nusantara, dengan mimbar yang dihiasi ukiran khas Aceh sebagai salah satu elemen otentik yang masih bertahan.
Dari sisi akademis, perhatian terhadap situs ini justru semakin berkembang. Pada 2024, hasil penelitian arkeologi peninggalan Islam kuno di Pidie Jaya dipresentasikan dalam sebuah seminar internasional di Bangkok. Penelitian tersebut berhasil memetakan akar sejarah wilayah Pidie Jaya hingga abad ke-15, tepatnya sejak tahun 1400 Masehi yang dibuktikan dengan temuan batu nisan kuno bertuliskan kaligrafi Islam di berbagai lokasi. Riset ini dinilai sangat penting sebagai dasar penyusunan identitas kesejarahan Pidie Jaya yang kini berjuluk “Negeri Japakeh”.
Kajian ilmiah terhadap Masjid Madinah juga terus bertumbuh. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Jurnal Arsitektur ZONASI pada 2025 secara khusus meneliti ornamentasi masjid ini, mengklasifikasikan ornamennya ke dalam empat jenis yaitu geometris, kaligrafi, floral, dan arabesque, sekaligus menegaskan pentingnya pelestarian makna ornamentasi tersebut di tengah perkembangan zaman. Sementara itu, penelitian dari Universitas Malikussaleh menyimpulkan bahwa di antara masjid-masjid kuno di Pidie Jaya, Masjid Madinah Teungku Japakeh menunjukkan integrasi elemen sakral yang paling utuh.
Penutup
Teungku Japakeh adalah sosok yang melampaui satu peran tunggal. Ia adalah ulama yang mendidik, diplomat yang menjembatani hubungan internasional, panglima yang memimpin di medan perang, dan pemimpin masyarakat yang menegakkan keadilan. Dalam satu masa yang sama, beliau merepresentasikan puncak sinergi antara keilmuan Islam dan kepemimpinan strategis di Kesultanan Aceh Darussalam.
Makamnya di Gampong Dayah Kruet bukan sekadar titik koordinat di peta wisata religi. Ia adalah monumen hidup yang mengingatkan generasi masa kini akan kebesaran peradaban Aceh di abad ke-17, sebuah peradaban yang dibangun di atas fondasi ilmu, iman, dan keberanian. Merawat situs ini berarti merawat ingatan kolektif bangsa. Dan memastikan bahwa generasi muda Aceh maupun Indonesia agar mengenal nama Teungku Japakeh bukan hanya sebagai nama di batu nisan, melainkan sebagai cermin dari siapa mereka dan dari mana mereka berasal.
#DanaIndonesiana
#DanaAbadiKebudayaan
#KementerianKebudayaan
#LPDP
#SidiyaKreyatCenter