Manuskrip Kuno
Koleksi naskah lama yang disimpan dan dibuka aksesnya oleh SIDIYA. Tiap naskah disertai keterangan pengarang, masa penulisan, bahasa dan aksaranya, serta pindaian yang dapat dibaca langsung di peramban.
Shirathal Mustaqim & Sabilal Muhtadin
Dua kitab dalam satu cetakan
- Pengarang matan
- Syekh Nuruddin ar-Raniry
- Pengarang syarah
- Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari
- Masa penulisan
- Abad ke-17 dan 1193 H / 1779 M
- Bahasa dan aksara
- Melayu, aksara Jawi
- Bidang
- Fikih mazhab Syafi’i
- Jumlah jilid
- Dua
Kitab fikih yang menjadi rujukan di Kesultanan Aceh Darussalam. Shirathal Mustaqim disusun Syekh Nuruddin ar-Raniry pada abad ke-17 dalam bahasa Melayu beraksara Jawi, ditujukan bagi pemula maupun pelajar lanjutan. Lebih dari satu abad kemudian, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari — dikenal sebagai Datu Kalampayan — menyusun Sabilal Muhtadin pada 1193 H, karena bahasa Melayu-Aceh dalam kitab ar-Raniry dirasa sukar dipahami pembaca Banjar. Kitab itu kemudian menjadi rujukan fikih Kesultanan Banjar.
Catatan penyajian
Cetakan ini memuat dua kitab sekaligus pada setiap halaman. Matan Shirathal Mustaqim dicetak di bagian tepi halaman, sedangkan Sabilal Muhtadin dicetak di bagian tengah. Pembaca yang membuka pindaian ini akan menjumpai kedua judul tersebut berdampingan — demikianlah tata letak kitab syarah dalam tradisi percetakan kitab klasik.
Turjuman al-Mustafid
Tafsir Al-Qur’an karya ulama Aceh, terbit di Istanbul
- Pengarang
- Syekh Abdurrauf as-Singkili
- Kedudukan
- Qadhi dan mufti Kesultanan Aceh
- Masa penulisan
- Abad ke-17
- Cetakan
- Istanbul, 1884, Maktabah Utsmaniyah
- Bahasa dan aksara
- Melayu, aksara Jawi
- Bidang
- Tafsir Al-Qur’an
Disebut sebagai tafsir Al-Qur’an lengkap pertama yang ditulis dalam bahasa Melayu di dunia Melayu. Penyusunnya, Syekh Abdurrauf as-Singkili, berasal dari Singkil dan menjabat qadhi sekaligus mufti Kesultanan Aceh pada abad ke-17.
Edisi Istanbul tahun 1884 diterbitkan Maktabah Utsmaniyah dengan penyunting yang berasal dari Pattani dan Kelantan. Perjalanan naskah ini — ditulis di Aceh, disunting ulama semenanjung, dicetak di ibu kota Utsmaniyah — memperlihatkan jaringan keilmuan yang menghubungkan Nusantara dengan Haramain, Kairo, dan Istanbul pada abad ke-17 hingga ke-19.
Pindaian naskah
Pindaian manuskrip Turjuman al-Mustafid belum tersedia dalam koleksi SIDIYA. Yang dapat dibaca untuk sementara adalah kajian ilmiah mengenai naskah ini.
