MESJID RAYA BAITURRAHMAN: Pusat Sejarah dan Arsitektur Islami

Di pusat kota Banda Aceh, terdapat sebuah bangunan yang berdiri kokoh dan megah. Bangunan tersebut bukan hanya sekadar tempat ibadah, akan tetapi juga saksi sejarah mengenai perjuangan, keteguhan iman, kebudayaan, dan semangat masyarakat Aceh. Bangunan tersebut adalah Masjid Raya Baiturrahman. Karena kekuatan spiritual nya, masjid ini tidak hanya dikenal oleh umat Islam Indonesia, akan tetapi juga oleh pemerhati sejarah dan wisatawan dunia sebagai lambang kekuatan jiwa dan raga sebuah komunitas.

Sejarah dan Asal Usul Pendirian Masjid Raya Baiturrahman

Sejarah mengenai Masjid Raya Baiturrahman telah bermula jauh sebelum era kolonialisme Belanda. Beberapa catatan sejarah menyebutkan bahwa masjid ini awalnya didirikan pada masa Kesultanan Aceh, diperkirakan sekitar tahun 1612 Masehi dibawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda, yaitu salah satu raja termasyhur dalam sejarah Aceh yang memerintah pada awal abad ke-17.

Sumber sejarah lain menyebutkan bahwa masjid ini sudah ada bahkan jauh lebih lama sebelum itu, yaitu pada tahun 1292 Masehi pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Mahmud Syah, yang menunjukkan bahwa Aceh tela menjadi pusat peradaban Islam sejak abad ke-13. Bangunan awal Masjid Raya masih memakai bentuk tradisional Aceh yang mana menggunakan atap bertingkat dari ijuk atau daun rumbia, yang menjadi ciri khas arsitektur lokal yang menyatu dengan lingkungan tropis Nusantara. Seiring perkembangan zaman, masjid ini kemudian berkembang menjadi pusat kajian, pendidikan IsIam, dan kegiatan sosial bagi masyarakat Aceh.

Perubahan terbesar dalam sejarah masjid ininterjadi pada masa pertengahan abad ke-19 ketika Belanda melancarkan serangan militernya untuk menguasai Kesultanan Aceh. Pada April 1873, ketika serangan Belanda memuncak, sebagian dari Masjid Raya dikabarkan habis dibakar sebagai bagian dari taktik Belanda untuk mematahkan semangat perlawanan masyarakat Aceh.

Ketika masjid ini terbakar dan runtuh, simbol spiritual masyarakat Aceh juga ikut direnggut bersama runtuhnya bangunan masjid. Kemudian, atas janji Van Lansberge, Gubernur Jenderal Belanda, pihak kolonial mulai membangun kembali Masjid Raya pada tahun 1879, sebagai usaha mereka untuk meredam kemarahan rakyat Aceh dan menunjukkan belas kasih. Pembangunan kembali ini akhirnya selesai pada 27 Desember 1881 pada masa kepemimpinan Sultan terakhir Aceh yaitu Muhammad Daud Syah.

 

Perubahan Arsitektur: Perpaduan Antara Gaya Tradisi dan Dunia

Pada awalnya, masjid yang telah dibangun kembali tersebut hanya memiliki satu kubah dan satu menara. Kemudian, dalam beberapa dekade berikutnya, terjadi perluasan dan perubahan berupa penambahan beberapa struktur penting, yaitu tambahan kubah dan menara pada tahun 1935, 1958, dan 1982, hingga seterusnya. Akhirnya masjid tersebut memiliki tujuh kubah dan delapan menara, termasuk menara tertinggi di Banda Aceh.

Banyak orang Aceh yang memaknai jumlah kubah dan menara Masjid Raya dengan nilai-nilai religius. Mereka memaknai tujuh kubah sebagai simbol kesempurnaan dan kemuliaan dalam IsIam. Sementara delapan menara sering dihubungkan dengan penjuru mata angin, seolah masjid ini menghadap dan menyambut umat dari segala penjuru. Namun, penafsiran ini bersifat kultural dan hanya hidup dalam narasi masyarakat, bukan dokumen arsitektur resmi.

Arsitektur Masjid Raya Baiturrahman mencerminkan perpaduan antara gaya unik tradisional Aceh dan gaya Mughal revival, serta sentuhan desain Eropa klasik. Kubah hitamnya yang kontras dengan dinding putih bersih menjadikan pemandangan yang indah dan memukau, yang mana telah menjadi ciri khas visual masjid ini dimata dunia. Interior masjid ini juga telah dirancang dengan ramah dan elegan, menggunakan lantai marmer import dari Italia, jendela kaca patri, tangga dan ornamen dari berbagai material mulia yang menjadi cerminan kecermatan estetika dari para pemikir di masa itu.

Ketika gempa bumi dan Tsunami pada 24 Desember 2004 silam melanda Aceh, hampir seluruh struktur kota Banda Aceh dan sekitarnya habis tersapu bencana tersebut. Rumah-rumah hancur dan lenyap, fasilitas umum porak-poranda, dan juga ribuan nyawa manusia hilang sekejap mata. Namun, ditengah kehancuran tersebut, Masjid Raya Baiturrahman terlihat tetap berdiri tegak dan menjadi tempat berlindung bagi ribuan warga yang selamat.

Walaupun mengalami beberapa retakan dan kerusakan, Masjid Raya Baiturrahman tetap selamat ketika seluruh bangunan disekelilingnya hancur total. Struktur bangunan yang kuat dan kokoh diperkirakan menjadi alasan masjid tersebut dapat bertahan. Bagi masyarakat Aceh sendiri, kejadian tersebut menjadi bukti nyata kekuatan iman, harapan, dan simbol pertolongan Ilahi pada masa paling gelap dalam kehidupan mereka.

Hingga hari ini, Masjid Raya Baiturrahman bukan hanya sekadar bangunan kuno, melainkan adalah lambang kuatnya iman dan perjuangan Aceh sepanjang sejarahnya, dari masa kesultanan, peperangan, penjajahan, hingga masa modern yang penuh perubahan. Saat ini, Masjid ini telah mengalami banyak perubahan dan semakin berkembang, hingga menjadi salah satu tujuan wisata religi utama di Indonesia.

Fakta Unik dan Aspek Budaya Masjid Raya Baiturrahman

Sejak masa Kesultanan Aceh, Masjid Raya Baiturrahman tidak hanya menjadi tempat ibadah, akan tetapi juga menjadi pusat kehidupan sosial, keagamaan, bahkan politik masyarakat Aceh. Letaknya yang berada tepat di pusat kota menunjukkan pandangan masyarakat Aceh bahwa agama, adat, dan pemerintahan merupakan hal yang tak terpisahkan, sebagaimana falsafah yang mengatakan hukom ngon adat lagee zat ngon sifeut, yang artinya hukum dan adat menyatu seperti zat dan sifatnya.

Masjid ini juga memiliki keterkaitan erat dengan tradisi keilmuan Islam di Aceh. Dulu, kawasan sekitar Masjid Raya menjadi tempat berkumpulnya ulama dan para penuntun ilmu untuk berdiskusi, mengajar, dan menyebarkan agama IsIam. Baiturrahman berfungsi sebagai pusat pendidikan IsIam nonformal yang memperkuat peran Aceh sebagai salah satu pusat intelektual IsIam di Asia Tenggara.

Menariknya, meskipun masjid ini merupakan hasil dari pembangunan kembali oleh pemerintah Belanda, masyarakat Aceh tidak mengenang masid tersebut sebagai simbol penjajahan, melainkan sebagai tanda perlawanan, martabat, dan kekuatan spiritual rakyat Aceh. Dengan demikian, Masjid Raya Baiturrahman tidak hanya menjadi monumen sejarah, tetapi juga cerminan hidup, budaya, dan jati diri Aceh hingga saat ini.

Masjid Raya Baiturrahman bukan hanya sekadar cerita tentang bata dan kubah. Bangunan ini adalah kenangan dan kisah panjang mengenai bagaimana sebuah komunitas mempertahankan keyakinan, martabat budaya, dan persatuan dalam menghadapi ujian. Dimulai dari masa Kerajaan Aceh, kehancuran saat tsunami, hingga kebangkitan kembali saat ini, masjid ini tetap menjadi simbol harapan yang selalu hidup di hati masyarakat Aceh.

#DanaIndonesiana
#DanaAbadiKebudayaan
#KementerianKebudayaan
#LPDP
#SidiyaKreyatCenter

Get 30% off your first purchase

X
Scroll to Top