Mesjid Po Teumeuruhom Labui: Bangunan Sejarah dan Cagar Budaya Pidie

Aceh memiliki sejarah panjang perkembangan Islam di Nusantara. Nilai-nilai keislaman telah melekat dalam kehidupan orang Aceh sejak lama, seperti yang ditunjukkan oleh julukan “Serambi Mekkah”. Terlepas dari fakta bahwa banyak situs sejarah Islam ada di sana, salah satunya adalah masjid-masjid tua yang menjadi pusat aktivitas keagamaan dan sosial masyarakat. Masjid Po Teumeurohom Labui di Kabupaten Pidie memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi.

Masjid Po Teumeurohom Labui adalah peninggalan sejarah yang menceritakan tentang perkembangan Islam, kehidupan sosial masyarakat, dan peran tokoh penting di masa lalu. Itu juga merupakan tempat ibadah bagi masyarakat sekitar. Masjid-masjid ini menunjukkan bahwa wilayah Pidie memainkan peran yang signifikan dalam sejarah penyebaran Islam di Aceh. Akibatnya, masjid ini dianggap tidak hanya sebagai bangunan religius tetapi juga sebagai warisan budaya yang harus dijaga dan dilestarikan.

Masjid Po Teumeurohom Labui adalah bangunan bersejarah dengan arsitektur unik dan nilai budaya yang melekat pada setiap bagian. Selain itu, masjid ini memiliki hubungan dengan tokoh-tokoh penting dalam sejarah Aceh, sehingga memiliki nilai historis yang signifikan bagi masyarakat setempat dan untuk studi sejarah Aceh secara keseluruhan.

Sejarah Masjid Po Temeurohom Labui

Mesjid Po Teumeureuhom adalah salah satu peninggalan mesjid bersejarah di Kabupaten Pidie yang memiliki nilai arkeologi dari banyak peninggalan bersejarah lainnya. Dianggap sebagai salah satu mesjid tua di Kabupaten Pidie yang memiliki nilai historis. Bentuk mesjid masih dapat dilihat dari bukti arkeologisnya, meskipun beberapa kali diubah tanpa menghilangkan bentuk aslinya. Warisan sejarah diubah.

Mesjid Po Teumeureuhom terletak di Jalan Lingkar Keuniree, Mukim Paloh, Desa Labui,Kecamatan Pidie, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh. Lokasi Mesjid ini ± berjarak 4 kilometer dari pusat Kota Sigli yang bisa ditempuh dengan perjalanan selama 10 menit.2Secara administrasi pemerintahan, Mesjid Po Teumeureuhom yang terletak di Desa Labui merupakan salah satu desa dalam Kemukiman Paloh Kecamatan Pidie Kabupaten Pidie dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:

  • Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Kampung-kampung dan Desa Lamkuta.
  • Sebelah utara berbatasan dengan Desa Kampong Pukat.
  • Sebelah timur berbatasan dengan Desa Pulo Pisang dan Desa Paloh.
  • Sebelah barat berbatasan dengan Desa Kampong Barat.

Mesjid ini dibangun atas gagasan Sultan Iskandar Muda, pada saat kerajaan Aceh mengalami masa kejayaan pada tahun 1607-1636 atau sekitar abad 17 Masehi. Pada masa ituKerajaan Aceh sedang mengalami peningkatan dalam berbagai bidang, yakni politik, ekonomi, perdagangan, hubungan internasional, untuk memperkuat armada perang serta mampu mengembangkan den memperkuat kehidupan agama islam.

Mesjid Po Teumeureuhom dibangun pada tahun 1906 M. Sebelumnya, Sultan Iskandar Muda datang ke Pedir (Pidie) untuk mengumpulkan angkatan perangnya. Selain mengumpulkan angkatannya, Sultan Iskandar Muda juga memutuskan untuk membangun mesjid. Pada masa itu, ia sering berkeliling dan singgah di banyak tempat, dan di setiap tempat yang ia kunjungi, ia membangunkan mesjid dengan tujuan untuk menyatukan umat Islam.

Masjid ini dulunya digunakan untuk salat berjamaah dan belajar agama. Masjid ini menjadi salah satu pusat pendidikan Islam tradisional di wilayah karena para ulama dan tokoh agama sering mengajarkan masyarakat tentang agama. Masyarakat setempat terus mempertahankan Masjid Po Teumeurohom Labui. Masjid ini telah mengalami beberapa renovasi untuk menyesuaikannya dengan perkembangan zaman, tetapi bentuk dasar dan nilai sejarahnya tetap terjaga dengan baik. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga warisan sejarah dan budaya.

Arsitektur dan Keunikan Bangunan

Mesjid Po Teumeureuhom dibangun secara bergotong royong. Warga bahkan melakukan perjalanan estafet sejauh 30 kilometer dari Kecamatan Mutiara Tiga (Laweung) ke Desa Labui untuk mengangkut batu. Sempat terjadi bahwa arsitek bangunan dari Cina didatangkan untuk mendesain mesjid selama pembangunan.7 Mesjid ini dulunya digunakan sebagai pertahanan perang dengan diwai yang dibangun di sekitarnya.Mesjid ini telah di renovasi atau dirawat tiga kali tanpa mengubah bentuk aslinya. Hanya dicat, dan atapnya sudah tidak layak digunakan, jadi diganti dengan atap seng.Fakeh Ali melakukan renovasi kedua selama Kerajaan Kalee. Mesjid Po Teumereuhom akhirnya digeser sedikit ke samping sebelah kanan seiring perkembangan zaman. Setelah itu, mesjid lama dilestarikan sebagai cagar budaya.

Salah satu renovasi terbesar dilakukan pada 16 Agustus 1984, ketika mesjid baru disampingnya dibangun dalam gaya modern. Ini pertama kali diusulkan pada tahun 1980. Mesjid tersebut dapat menampung jamaah 2.000 lebih jamaah, warga yang memunaikan shalat Jum`at di Mesjid Raya Labui tersebut berasal dari Kemukiman Paloh, Kota Sigli, Garot, Lhok Kaju dan Caleu. Ramai warga melaksanakan shalat di mesjid tersebut dikarenakan letaknya di pinggir jalan dan juga di pinggir sawah sehingga angin sepoi-sepoi mampu mengusir hawa panas.

Masjid Po Teumeurohom Labui sangat menarik karena bentuk arsitekturnya yang menggabungkan elemen keislaman dengan gaya arsitektur tradisional Aceh. Masjid ini memiliki bentuk yang sederhana, tetapi memiliki filosofi dan nilai estetika yang signifikan. Misalnya, bagian atap masjid ini memiliki bentuk yang mirip dengan bangunan tradisional Aceh, dengan atap bertingkat yang menunjukkan kedekatan manusia dengan Sang Pencipta dan keagungan. Bentuk atap seperti ini banyak ditemukan pada masjid-masjid tua di Aceh. Masjid Po Teumeurohom Labui memiliki nilai historis dan budaya yang tinggi dan merupakan salah satu bangunan bersejarah penting bagi masyarakat Pidie karena keunikan arsitekturnya.

Peran Masjid dalm Kehidupan Masyarakat

Masjid Po Teumeurohom Labui memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat sejak awal berdirinya. Masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah tetapi juga menjadi pusat aktivitas sosial dan pendidikan masyarakat. Berbagai kegiatan keagamaan seperti pengajian, ceramah agama, dan peringatan hari besar Islam sering dilaksanakan di masjid ini. Selain itu, masjid juga menjadi tempat berkumpulnya masyarakat untuk melakukan musyawarah dalam membahas berbagai persoalan sosial di lingkungan mereka.

Salah satu ciri khas kehidupan sosial masyarakat Aceh yang sangat dekat dengan institusi masjid adalah peran masjid yang begitu besar yang menunjukkan bahwa keberadaannya tidak hanya sebagai tempat ibadah tetapi juga sebagai pusat kehidupan masyarakat.

Peran Generasi Muda dal Memahami Sejarah

Agar generasi muda dapat mengenal identitas budaya daerahnya, sangat penting bagi mereka untuk memahami sejarahnya. Situs bersejarah seperti Masjid Po Teumeurohom Labui dapat membantu generasi muda memahami sejarah Aceh. Kunjungan ke situs-situs bersejarah memungkinkan generasi muda untuk mempelajari sejarah selain dari pelajaran resmi di sekolah. Mereka dapat memahami nilai sejarah dan budaya yang terkandung dalam bangunan-bangunan tersebut dengan melihatnya secara langsung.

Selain itu, kemajuan teknologi digital juga dapat digunakan untuk mempelajari sejarah lokal. Berbagai jenis media digital, seperti artikel, dokumentasi foto, dan video, sekarang dapat diakses untuk mendapatkan informasi tentang situs-situs sejarah. Dengan demikian, generasi muda dapat lebih mudah mengenal dan mempelajari sejarah daerahnya. Sangat penting bagi generasi muda untuk terlibat dalam pelestarian budaya, seperti melakukan penelitian, menulis tentang sejarah, dan mendokumentasikan situs budaya. Hal ini dapat menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan budaya daerah.

Tantangan dan Upaya Pelestaarian

Berbagai masalah menghadang pelestarian situs sejarah di zaman sekarang. Salah satu masalah utama adalah kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga warisan sejarah. Selain itu, perkembangan pembangunan modern terkadang menyebabkan perubahan pada bangunan lama yang dapat mengurangi nilai sejarahnya. Untuk melestarikan situs bersejarah, masyarakat, pemerintah, dan lembaga budaya harus bekerja sama untuk menjaga keberadaan situs tersebut. Ini disebabkan oleh kurangnya dana dan kurangnya dokumentasi sejarah.

Untuk melestarikan situs sejarah, orang dapat belajar lebih banyak tentang mereka melalui pendidikan budaya, melakukan dokumentasi sejarah yang teratur, dan menggunakan teknologi digital untuk memperkenalkan situs budaya kepada masyarakat luas. Pemerintah daerah juga dapat melindungi situs bersejarah dengan membuatnya sebagai cagar budaya.

Penutup

Masjid Po Teumeurohom Labui adalah bangunan bersejarah yang memiliki nilai penting bagi masyarakat Kabupaten Pidie karena fungsinya sebagai tempat ibadah serta sebagai representasi perjalanan sejarah dan perkembangan Islam di wilayah tersebut. Masjid ini harus dijaga dan dilestarikan karena nilai sejarahnya, gaya arsitekturnya, dan peran sosialnya. Diharapkan Masjid Po Teumeurohom Labui dapat tetap terpelihara sebagai bagian dari identitas budaya Aceh dan menjadi saksi sejarah bagi generasi mendatang melalui kesadaran masyarakat, dukungan pemerintah, dan partisipasi generasi muda.

#DanaIndonesiana
#DanaAbadiKebudayaan
#KementerianKebudayaan
#LPDP
#SidiyaKreyatCenter

Get 30% off your first purchase

X
Scroll to Top