Kitab Shirathol Mustaqim
Kitab As-Shirathal Mustaqim
Cover Karya
Ringkasan
Kitab ini adalah karya Syekh Nuruddin Ar-Raniry yang merupakan kitab fikih mazhab Syafi’i monumental pertama berbahasa Melayu/Jawi di Nusantara yang membahas ibadah dan hukum-hukum lain, ditulis pada abad ke-17 sebagai rujukan utama untuk pemula dan ulama di Kesultanan Aceh dan sekitarnya, serta menjadi dasar bagi karya-karya fikih Melayu berikutnya seperti Sabilul Muhtadin, karangan ulama besar Kalimantan yang bernama Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari.
Lihat Karya
Jilid 01
Loading Viewer…
Jilid 02
Loading Viewer…
Kitab Shirathol Mustaqim
Kitab As-Shirathal Mustaqij
Cover Karya
Ringkasan
Kitab ini adalah karya Syekh Nuruddin Ar-Raniry yang merupakan kitab fikih mazhab Syafi’i monumental pertama berbahasa Melayu/Jawi di Nusantara yang membahas ibadah dan hukum-hukum lain, ditulis pada abad ke-17 sebagai rujukan utama untuk pemula dan ulama di Kesultanan Aceh dan sekitarnya, serta menjadi dasar bagi karya-karya fikih Melayu berikutnya seperti Sabilul Muhtadin, karangan ulama besar Kalimantan yang bernama Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari.
Lihat Karya
Jilid 01
Loading Viewer…
Turjuman Al-Mustafid, Tafsir Karya Ulama Aceh Terbit di Turki
Deskripsi Karya
kitab tafsir “Turjuman al-Mustafid” karangan Syaikh ‘Abd al-Rauf as-Sinkili al-Jawi, seorang ulama Nusantara asal Aceh di abad ke-12 H/17 M (w. 1105 H/ 1693 M). Naskah ini merupakan edisi cetakan Maktabah Utsmaniyah, Istanbul, dengan tahun cetak 1884 M. “Turjuman al-Mustafid” merupakan kitab tafsir al-Qur’an pertama dan terlengkap yang ditulis di dunia Melayu, dalam bahasa Melayu, dan oleh seorang ulama Melayu-Nusantara (Aceh). Bahasa Melayu adalah lingua-franca yang digunakan di kawasan Asia Tenggara pada masa itu.
‘Abd al-Rauf as-Sinkili sendiri sezaman dengan Yusuf al-Makassari, ‘Abd al-Syakur al-Bantani, dan ‘Abd al-Muhyi al-Jawi (Pamijahan)—para ulama Jawi (Nusantara) yang sama-sama belajar di Haramayn kepada Syaikh Ibrahim al-Kurani (w. 1101 H/ 1689 M), seorang cendekiawan sentral dunia Islam asal Kurdi yang berkiprah di Madinah. ‘Abd al-Rauf didaulat sebagai qadhi (hakim agung) sekaligus mufti Kerajaan Aceh di masa pemerintahan Ratu Shafiyatuddin dan Ratu Kamalatuddin. Ia banyak mengarang kitab dalam pelbagai bidang ilmu keislaman. Mayoritas karya-karya tersebut, meski menggunakan judul berbahasa Arab, namun isinya ditulis menggunakan Bahasa Melayu aksara Arab. “Turjuman al-Mustafid” adalah karya al-Sinkili yang paling populer. Tahun cetak naskah “Turjuman al-Mustafid” pada 1884 M sekaligus tempat dicetaknya di Istanbul, setidaknya menunjukkan beberapa hal penting. Pertama, kitab tersebut terus digunakan sebagai kitab acuan dan pegangan tafsir al-Qur’an oleh masyarakat Muslim Nusantara selama berabad-abad lamanya (dikarang di medio abad ke-17 M, dan dicetak di akhir abad ke-19 M).
Sebelum dicetak di Istanbul, kitab tersebut terlebih dahulu diedit oleh tiga orang ulama Nusantara asal Pattani dan Kelantan, yaitu Ahmad al-Fathani, Idris al-Kalantani, dan Dawud al-Fathani. Kedua, kitab tersebut dicetak di Istanbul, ibu kota Kekhilafahan Islam. Besar kemungkinan kitab tersebut juga terdistribusikan sekaligus menjadi pegangan para santri asal Nusatara yang tengah belajar di Mekkah-Madinah (Hijaz), Kairo (Azhar), dan Istanbul. Keempat kota itu pada masa tersebut masih tersatukan sebagai kota-kota provinsi Kekhalifahan Usmaniyah. Ketiga, masih kuatnya jaringan intelektual Islam antara Nusantara, Haramayn, Kairo, dan Istanbul pada masa itu (abad ke-19 M).
Pada masa al-Sinkili (abad ke-17 M), mahaguru ulama Nusantara di Haramayn adalah Syaikh Ibrahim al-Kurani, maka di masa dicetaknya kitab tersebut (abad ke-19 M), mahaguru ulama Nusantara di Haramayn adalah Syaikh Ahmad Zaini Dahlan dan Syaikh Nawawi al-Bantani, sementara di Kairo adalah Syaikh Ibrahin al-Baijuri (sayap tradisionalis) dan Syaikh Muhammad Abduh (sayap modernis). Sayangnya, jaringan intelektual Nusantara-Istanbul pada masa itu masih belum terlacak.
Manuskrip
Lihat manuskrip naskah di sini.
Turjuman Al-Mustafid, Tafsir Karya Ulama Aceh Terbit di Turki
Deskripsi Karya
kitab tafsir “Turjuman al-Mustafid” karangan Syaikh ‘Abd al-Rauf as-Sinkili al-Jawi, seorang ulama Nusantara asal Aceh di abad ke-12 H/17 M (w. 1105 H/ 1693 M). Naskah ini merupakan edisi cetakan Maktabah Utsmaniyah, Istanbul, dengan tahun cetak 1884 M. “Turjuman al-Mustafid” merupakan kitab tafsir al-Qur’an pertama dan terlengkap yang ditulis di dunia Melayu, dalam bahasa Melayu, dan oleh seorang ulama Melayu-Nusantara (Aceh). Bahasa Melayu adalah lingua-franca yang digunakan di kawasan Asia Tenggara pada masa itu.
‘Abd al-Rauf as-Sinkili sendiri sezaman dengan Yusuf al-Makassari, ‘Abd al-Syakur al-Bantani, dan ‘Abd al-Muhyi al-Jawi (Pamijahan)—para ulama Jawi (Nusantara) yang sama-sama belajar di Haramayn kepada Syaikh Ibrahim al-Kurani (w. 1101 H/ 1689 M), seorang cendekiawan sentral dunia Islam asal Kurdi yang berkiprah di Madinah. ‘Abd al-Rauf didaulat sebagai qadhi (hakim agung) sekaligus mufti Kerajaan Aceh di masa pemerintahan Ratu Shafiyatuddin dan Ratu Kamalatuddin. Ia banyak mengarang kitab dalam pelbagai bidang ilmu keislaman. Mayoritas karya-karya tersebut, meski menggunakan judul berbahasa Arab, namun isinya ditulis menggunakan Bahasa Melayu aksara Arab. “Turjuman al-Mustafid” adalah karya al-Sinkili yang paling populer. Tahun cetak naskah “Turjuman al-Mustafid” pada 1884 M sekaligus tempat dicetaknya di Istanbul, setidaknya menunjukkan beberapa hal penting. Pertama, kitab tersebut terus digunakan sebagai kitab acuan dan pegangan tafsir al-Qur’an oleh masyarakat Muslim Nusantara selama berabad-abad lamanya (dikarang di medio abad ke-17 M, dan dicetak di akhir abad ke-19 M).
Sebelum dicetak di Istanbul, kitab tersebut terlebih dahulu diedit oleh tiga orang ulama Nusantara asal Pattani dan Kelantan, yaitu Ahmad al-Fathani, Idris al-Kalantani, dan Dawud al-Fathani. Kedua, kitab tersebut dicetak di Istanbul, ibu kota Kekhilafahan Islam. Besar kemungkinan kitab tersebut juga terdistribusikan sekaligus menjadi pegangan para santri asal Nusatara yang tengah belajar di Mekkah-Madinah (Hijaz), Kairo (Azhar), dan Istanbul. Keempat kota itu pada masa tersebut masih tersatukan sebagai kota-kota provinsi Kekhalifahan Usmaniyah. Ketiga, masih kuatnya jaringan intelektual Islam antara Nusantara, Haramayn, Kairo, dan Istanbul pada masa itu (abad ke-19 M).
Pada masa al-Sinkili (abad ke-17 M), mahaguru ulama Nusantara di Haramayn adalah Syaikh Ibrahim al-Kurani, maka di masa dicetaknya kitab tersebut (abad ke-19 M), mahaguru ulama Nusantara di Haramayn adalah Syaikh Ahmad Zaini Dahlan dan Syaikh Nawawi al-Bantani, sementara di Kairo adalah Syaikh Ibrahin al-Baijuri (sayap tradisionalis) dan Syaikh Muhammad Abduh (sayap modernis). Sayangnya, jaringan intelektual Nusantara-Istanbul pada masa itu masih belum terlacak.
Manuskrip
Lihat manuskrip naskah di sini.