Sejak dahulu, masyarakat Aceh telah mengenal sistem penanggalan tradisional yang disebut Almanak Aceh, sebuah cara membaca waktu yang tidak hanya bersifat kronologis, tetapi juga kultural dan spiritual. Dalam almanak ini, setiap bulan bukan sekadar urutan angka, melainkan penanda kehidupan—mewakili peristiwa, kebiasaan, dan suasana batin masyarakat yang berulang dari tahun ke tahun. Di antara dua belas bulan tersebut, bulan ketujuh yang bertepatan dengan Rajab memiliki nuansa yang sangat khas dan hangat, dikenal sebagai Buleun Khanduri Apam.
Sebutan Buleun Apam lahir dari tradisi yang begitu kuat mengakar, yakni kebiasaan membuat dan menghidangkan apam secara bersama-sama. Kata buleun berarti bulan, sementara apam merujuk pada kue tradisional yang lembut, berpori, dan memiliki cita rasa khas perpaduan santan dan beras. Namun, di balik kesederhanaannya, apam bukan sekadar makanan. Ia adalah simbol kebersamaan. Ia adalah bahasa budaya yang tidak diucapkan, tetapi dirasakan—melalui aroma yang mengepul dari dapur, melalui tangan-tangan yang bekerja bersama, dan melalui senyum yang saling dibagi di antara warga gampong.
Ketika bulan Rajab tiba, suasana di kampung-kampung Aceh perlahan berubah. Dapur-dapur mulai hidup lebih awal dari biasanya. Kaum ibu berkumpul, menyiapkan bahan, menumbuk beras, mengaduk adonan, dan menyalakan api. Percakapan mengalir di sela-sela aktivitas, menghadirkan kehangatan yang tidak hanya berasal dari tungku, tetapi juga dari kebersamaan. Tradisi ini bukan sekadar rutinitas, melainkan sebuah peristiwa sosial yang menghidupkan kembali ikatan antarwarga.
Asal-usul Khanduri Apam tidak terikat pada satu cerita tunggal. Ia justru hidup dari beragam kisah yang diwariskan secara lisan, berkembang dalam ingatan kolektif masyarakat. Salah satu kisah yang paling dikenal berkaitan dengan seorang sufi bernama Abdullah Rajab.
Dikisahkan bahwa ia adalah seorang yang sangat sederhana, hidup dalam kesunyian, dan sepenuhnya mengabdikan diri pada ibadah. Ketika ia wafat, tidak ada harta yang bisa dijadikan sedekah. Namun masyarakat yang mengenalnya tidak tinggal diam. Mereka berkumpul, berinisiatif membuat makanan sederhana—apam—untuk dibagikan. Dari situlah tradisi ini diyakini mulai hidup: dari rasa iba, dari kepedulian, dan dari keinginan untuk tetap memberi meski dalam keterbatasan.
Kisah lain datang dari catatan Christiaan Snouck Hurgronje, yang menggambarkan tradisi ini dalam bentuk simbolik. Ia menceritakan tentang seseorang yang ingin mengetahui kehidupan di alam kubur. Dalam kisah tersebut, apam digambarkan sebagai pelindung dari azab—sebuah metafora yang kuat tentang makna sedekah dan doa dari orang-orang yang masih hidup.
Meski kisah-kisah ini tidak dapat diverifikasi secara historis, kekuatannya justru terletak pada makna yang dibawanya. Tradisi Khanduri Apam tidak bergantung pada fakta sejarah semata, tetapi pada nilai yang hidup di dalamnya: berbagi, peduli, dan mengingat sesama.
Bagi masyarakat Aceh, bulan Rajab bukan sekadar waktu biasa. Ia dikenal sebagai buleun peugleh tuboh—bulan untuk “membersihkan diri”. Dalam suasana ini, tradisi Khanduri Apam menjadi bagian dari perjalanan spiritual yang lebih luas. Masyarakat mulai saling mengunjungi, mengetuk pintu rumah kerabat, dan membawa apam sebagai tanda permohonan maaf.
Bayangkan suasana itu: seseorang datang dengan membawa hidangan sederhana, duduk di ruang tamu yang bersahaja, lalu dengan tulus mengucapkan maaf atas kesalahan yang mungkin pernah terjadi. Tidak ada formalitas, tidak ada jarak—hanya kejujuran dan keinginan untuk memperbaiki hubungan.
Tradisi ini kemudian berlanjut ke bulan berikutnya, Sya’ban, yang dikenal sebagai masa membersihkan hati, sebelum akhirnya mencapai puncaknya di Ramadan. Dengan demikian, Khanduri Apam bukan hanya tradisi kuliner, tetapi bagian dari rangkaian perjalanan batin yang terstruktur dan penuh makna.
Pelaksanaan Khanduri Apam adalah cerminan nyata dari gotong royong. Prosesnya dimulai dari hal-hal sederhana: menumbuk beras, mencampur santan, merendam adonan, hingga menuangkannya ke dalam wadah tanah liat. Api dinyalakan perlahan, dan satu per satu apam matang dengan permukaan yang berpori halus.
Aroma khasnya menyebar ke seluruh rumah, bahkan ke jalan-jalan kecil di gampong. Anak-anak mulai berdatangan, tetangga saling menyapa, dan suasana menjadi hidup. Setelah matang, apam disajikan bersama kuah tuhe yang manis dan gurih, menghadirkan rasa yang bukan hanya lezat, tetapi juga penuh kenangan.
Yang menarik, tradisi ini tidak berhenti di dalam rumah. Apam dibagikan ke tetangga, dibawa ke meunasah, bahkan dikirim ke kerabat di kampung lain. Setiap potong apam adalah pesan tanpa kata: bahwa hubungan masih dijaga, bahwa kebersamaan masih hidup.
Seiring waktu, tradisi Khanduri Apam menyebar ke berbagai wilayah di Aceh, terutama dari daerah Pidie. Di sana, tradisi ini tumbuh kuat dan menjadi identitas lokal yang khas. Dari satu gampong ke gampong lain, dari generasi ke generasi, tradisi ini terus hidup dan berkembang.
Namun, seperti banyak tradisi lainnya, Khanduri Apam juga menghadapi tantangan di era modern. Di kota-kota besar, ritme kehidupan yang cepat membuat tradisi ini tidak selalu dijalankan secara utuh. Meski begitu, semangatnya belum hilang. Dalam berbagai festival budaya, kegiatan sekolah, hingga dokumentasi di media sosial, tradisi ini terus dikenalkan kembali kepada generasi muda.
Yang bertahan bukan hanya bentuknya, tetapi maknanya. Selama masyarakat masih memahami nilai di baliknya—tentang berbagi, memaafkan, dan menjaga hubungan—maka tradisi ini akan tetap hidup, meski dalam bentuk yang mungkin berbeda.
Pada akhirnya, Buleun Khanduri Apam adalah lebih dari sekadar nama bulan dalam Almanak Aceh. Ia adalah refleksi dari cara masyarakat memaknai waktu sebagai ruang untuk memperbaiki diri, mempererat hubungan, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Di balik kue apam yang sederhana, tersimpan nilai yang begitu dalam: tentang ketulusan, tentang kebersamaan, dan tentang harapan akan kehidupan yang lebih baik. Tradisi ini mengajarkan bahwa budaya tidak selalu harus megah untuk bermakna. Kadang, ia justru hadir dalam hal-hal kecil—dalam makanan sederhana, dalam sapaan hangat, dan dalam langkah kaki yang membawa seseorang ke rumah orang lain untuk sekadar berkata, “maaf.”
Selama nilai-nilai itu masih dijaga, selama apam masih dibuat dan dibagikan, maka Buleun Khanduri Apam akan terus hidup—bukan hanya sebagai tradisi, tetapi sebagai bagian dari jiwa masyarakat Aceh.